Monday, April 29, 2013

Mendesak, Upaya Mengatasi Sampah Antariksa

Diperkirakan NASA, saat ini terdapat 500 ribu sampah antariksa seukuruan kelereng di orbit Bumi.

satelit,bumiIlustrasi sampah antariksa (Thinkstockphoto)
Dalam konferensi tahunan The 6th European Conference on Space Debris di Darmstadt, Jerman, para pakar mendesak adanya tindakan lekas untuk mengatasi sampah antariksa di orbit Bumi. Ini harus segera dilakukan sebelum sampah-sampah tersebut tidak lagi terkendali.
Meski tidak bisa dilihat langsung dari Bumi, sampah antariksa menimbulkan ancaman bagi satelit yang mengorbit. Paling terancam, tentu manusia yang berada di Bumi.
"Pemahaman kami mengenai masalah sampah antariksa yang terus berkembang bisa dibandingkan dengan pemahaman mengatasi perubahan iklim yang terjadi di Bumi pada 20 tahun silam," kata Heiner Klinkrad, Kepala Bidang Puing Antariksa dari Agensi Antariksa Eropa (ESA), Kamis (25/4).
Diperkirakan oleh Badan Antariksa dan Penerbangan AS (NASA), saat ini terdapat 500 ribu sampah antariksa seukuruan kelereng hingga 22 ribu sampah seukuran bola softball. Sampah ini bergerak dengan sangat cepatnya sehingga bisa menghancurkan satelit yang sedang beroperasi.
Ini menjadi ancaman potensial mengingat di masyarakat teknologi seperti sekarang, manusia sangat bergantung pada satelit. Contoh kejadian fatal terjadi pada Februari 2009 ketika satelit militer bekas milik Rusia menabrak satelit komunikasi AS yang masih beroperasi.
Namun, untuk mengatasi kendala ini, para pakar menegaskan pentingnya arti berkelanjutan. Setiap sampah antariksa harus diatasi dengan cara ramah lingkungan. Ditegaskan pula bahwa program ini akan menelan biaya besar.
"Tidak ada alternatif lain untuk melindungi luar angkasa yang merupakan sumber daya berharga bagi infrastruktur satelit kita," tambah Klinkrad.

Sumber

Monday, February 11, 2013

Inilah Foto Pertama Mars pada Malam Hari


                                                                                                                                              NASA
Wahana Curiosity menangkap foto pertama Mars pada malam hari pada Selasa (22/1/2013). Obyek fotonya adalah batu "Sayunei" yang sebelumnya telah dicukil.

CALIFORNIA, KOMPAS.com - Wahana antaraiksa Curiosity milik Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) memotret tanah Mars pada malam hari. Foto yang dihasilkannya menjadi foto pertama panorama Mars malam hari.

Objek yang difoto oleh Curiosity adalah sebuah batu yang disebut "Sayunei". Batu itu telah dicukil sebelumnya oleh Curiosity

Curiosity menjepret Sayunei dalam cahaya tampak dan ultraviolet. Untuk memotret, wahana itu memakai Mars Hand Lens Imager (MAHLI) yang tertancap di lengannya. Sumber cahaya LED dari kamera itu digunakan untuk mendukung pemotretan pada malam hari.

"Tujuan observasi di bawah cahaya ultraviolet adalah untuk mencari adanya mineral fluoresens," kata Ken Edgett dari Malin Space Science System di San Diego, pimpinan investigasi MAHLI.

Diberitakan Space, Jumat (25/1/2013), Sayunei sebelumnya dicukil oleh Curiosity. Bagian yang dicukil tersebut yang ditangkap oleh kamera MAHLI untuk dianalisis. Kamis lalu, data telah diterima, tinggal menunggu hasil analisisnya.

MAHLI adalah salah satu instrumen andalan Curiosity. Curisoity sendiri kini tengah berada di wilayah Mars bernama Yellowknife Bay.

Curiosity mendarat di Mars sejak 6 Agustus 2012 lalu. Sejumlah penemuan telah dihasilkan, seperti menemukan bukti terkuat adanya air di Mars, batu yang serupa batu di Bumi serta sejumlah temuan populer seperti foto dirinya di planet merah.

Sumber

Ini Dia Foto Berwarna Pertama Jejak Curiosity di Mars


                                                                                                                                                     NASA
Jejak penjelajahan Curisoity pertama dalam foto berwarna.

CALIFORNIA, KOMPAS.com — Untuk pertama kalinya, jejak penjelajahan wahana antariksa Curiosity di Mars diabadikan dalam foto berwarna. Foto tersebut diambil kamera HiRISE yang tersemat pada wahana Mars Reconnaissance Orbiter (MRO).

MRO mengambil foto tersebut dari jarak 271 kilometer dari permukaan Mars, area orbit wahana antariksa itu. Foto dimbil pada 13 Januari 2013, saat Curiosity bersiap-siap memulai pengeboran pada batuan yang terlihat di permukaan Mars, John Klein, di wilayah yang disebut Yellowknife, Kawah Gale.

Jejak yang ditunjukkan dalam foto ini adalah wilayah pendaratan Curiosity pada 6 Agustus 2012. Ross A Beyer, anggota tim peneliti HiRISE seperti dikutip Universe Today, Kamis (31/1/2013), menjelaskan, "Pasangan area putih terang di tepi foto HiRISE menunjukkan area derek wahana (yang membantu pendaratan Curiosity)."

Menurut Beyer, area tersebut seperti dibersihkan saat pendaratan Curiosity sehingga tampak terang. Wilayah sekitarnya tampak gelap karena debu-debu diterbangkan ke wilayah itu saat robot enam roda tersebut mendarat. Sementara, garis memanjang di foto adalah jejak perjalanan Curiosity di Mars setelah mendarat. 

Hingga kini, Curiosity hampir genap 6 bulan berada di Mars. Wahana ini telah membuat penemuan berharga, seperti adanya tanah Mars yang mirip tanah di Bumi, batuan Mars yang mirip batuan Bumi, dan bukti-bukti bahwa Mars pernah memiliki air.

Sumber

Planet Layak Huni Masih Tetangga Bumi


                                                                                                                                    Timotheos Samartzidis
Ilsutrasi tata surya tertua dengan bintang induk bernama HIP 11952 atau "Sannatana" dan dua planet gas raksasa.

WASHINGTON, KOMPAS.com — Pencarian planet layak huni tak perlu dicari di tempat yang jauh sebab sebenarnya mungkin ada tak jauh dari Bumi. Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) melakukan ekstrapolasi hasil penemuan teleskop Kepler.

NASA terutama melihat temuan Kepler terkait bintang katai merah. Bintang ini berukuran sepertiga Matahari dan cahayanya 1.000 kali lebih redup dari Matahari. Tiga perempat bintang di Bimasakti ialah bintang katai merah. 

Setidaknya satu bintang katai merah memiliki planet berukuran dua kali Bumi. NASA kemudian menganalisis 95 kandidat planet yang mengelilingi bintang katai merah dan menemukan bahwa 60 persen di antaranya adalah planet yang berukuran lebih kecil dari Neptunus.

Di antara planet-planet tersebut, kebanyakan memang tak memiliki ukuran dan temperatur yang persis Bumi. Namun, tiga planet diketahui memiliki suhu yang hangat dan ukuran mendekati Bumi. Sayang, astronom belum bisa mengonfirmasi apakah planet itu berbahan batuan seperti Bumi.

Berdasarkan studi, secara statistik diketahui bahwa sekitar 6 persen bintang katai merah memiliki planet seukuran Bumi. Karena 75 persen dari bintang terdekat adalah bintang katai merah, maka planet serupa Bumi terdekat mungkin hanya berjarak 13 tahun cahaya. 

"Jika kita mencari planet serupa Bumi yang mungkin bisa mendukung kehidupan, kita tak harus mencarinya jauh-jauh seperti yang dilakukan sebelumnya," kata Courtney Dressing, astronom dari Harvard Smithsonian Center for Astrophysics, seperti dikutip Discovery, Rabu (6/2/2013).

Sumber

 

Ayo, Ramai-ramai Kirim Pesan ke Alien


Ohio State University Radio ObservatoryScan dari pintout Sinyal Wow!
WASHINGTON, KOMPAS.com - Ilmuwan bersama National Geographic Channel mengajak publik untuk membalas "Sinyal Wow!" yang diduga berasal dari alien. Publik bisa mengirim pesan sepanjang maksimal 140 karakter lewat Twitter pada Sabtu (30/6/2012) pukul 8.00-15.00 WIB dengan hashtag #ChasingUFOs.
Sinyal Wow! adalah satu-satunya sinyal yang ditangkap pada tahun 1977 saat ilmuwan melaksanakan misi mencari tanda-tanda kehidupan di luar angkasa lewat misi Search for Extra-Terrestrial Intelligence (SETI). Sinyal itu tertangkap di antara sekian noise data.
Saat itu, observatorium di Ohio State University, AS menangkap transmisi radio sepanjang 72 detik yang datang dari rasi Sagitarius. Saat puncaknya, transmisi tersebut 30 kali lebih kuat dari ambien radiasi dari angkasa sehingga astronom Jerry Ehman sempat menuliskan kata "Wow" di print-out sinyal.
Menurut rencana, respon publik berupa tweet yang terkumpul nantinya akan dijadikan satu pesan dan kemudian dikirim ke wilayah yang menjadi asal pesan itu. Pesan akan dikirim pada 15 Agustus 2012 nanti, tepat 35 tahun setelah Sinyal Wow! diterima.
"Kami sedang bekerja dengan Arecibo Observatory untuk mengembangkan cara mengenkripsi transmisi. Transmisi sebelumnya fokus pada kesederhanaan pesan, tetapi saat ini lebih pada upaya membuat pesan kompleks tapi bisa ditangkap," kata Kristin Montalbano, juru bicara National Geographic Channel.

"Kita akan menggunakan kode biner," sambung Montalbano seperti dikutip Life's Little Mysteries, Senin (25/6/2012). Lebih lanjut, ia berharap pesan yang dikirimkan berhasil ditangkap oleh alien, jika memang ada, di tengah banyaknya noise.

Montalbano menuturkan, jika memang alien ada, maka pasti ilmuwan di dunia alien nantinya akan merasa tertantang untuk memecahkan sinyal yang dikirim dan berusaha memahami bahasa yang dipakai oleh manusia.

"Pastinya menemukan sinyal dari makhluk cerdas dari planet lain akan menjadi momen khusus bagi mereka dan memberi dampak, mengasumsikan bahwa mereka belum mengenal kita sebelumnya atau mungkin sudah follow kita di Twitter," ungkap Montalbano.

Menurut Montalbano, jika memang alien adalah pengirim sinyal pada tahun 1977, maka pasti kehidupan cerdas ada di luar angkasa. Pasalnya, pengiriman pesan membutuhkan transmitor berdaya 2,2 Gigawatt atau sekitar 100 juta kali daya lampu rumah.