Monday, January 28, 2013

Makhluk Luar Angkasa Menurut Tinjauan Al-Quran


Makhluk Luar Angkasa Menurut Tinjauan Al-Quran

Segala puji bagi Allah shalawat serta salam semoga tercurah keatas junjungan kita Nabi Muhammad, keluarganya, shahabatnya dan mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du:
Pembaca yang dirahmati Allah Ta’alaa:
Phenomena yang terjadi baru-baru ini yaitu kemunculan jejak UFO berupa circle crop di Sleman Yogyakarta menggegerkan rakyat Indonesia terutama warga sekitar karena ini yang pertama terjadi di negara kita.
Sebagian orang langsung percaya bahwa itu memang jejak UFO dan memang makhluk luar angkasa benar-benar ada, sedangkan sebagian orang terburu-buru mengingkarinya dan mengatakan bahwa makhluk luar angkasa itu tidak ada.
Lalu bagaimana kita sebagai seorang muslim yang diwajibkan percaya kepada yang ghaib yang tidak bisa kita lihat menyikapi phenomena seperti ini?
Bagaimana phenomena makhluk luar angkasa jika ditinjau dari Al-Qur’an?
Harus diketahui bahwa Yang menciptakan manusia dari tidak ada dan membentuknya dan meniupkan padanya dari ruh-Nya, dan mengokohkan ciptaan alam semesta ini termasuk keajaiban yang ada didalamnya, adalah juga Maha Kuasa untuk menciptakan luar angkasa dan makhluknya, Al-Qur’an telah menunjukkan adanya makhluk-makhluk yang tidak diketahui oleh manusia dimasa kenabian, demikian juga Al-Qur’an menunjukkan peran dari penemuan ilmiyah, dan bahwa setiap berita akan ada waktu kemunculannya, Allah Azza wa Jalla berfirman:
(وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً وَيَخْلُقُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ ) (النحل:8)
Artinya: (dan dia telah menciptakan kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.) [QS An-Nahl: 8].
Ayat diatas mengisyaratkan bahwa ada beberapa makhluk yang diciptakan oleh Allah Ta'aala dari jenis hewan yang kita tidak mengetahuinya, ini karena Allah Ta'aala menyambungkan makhluk tersebut dengan kuda, bagal dan keledai yang merupakan jenis hewan.
Dan disebutkan di dalam Al-Qur’an beberapa ayat lainnya yang sepertinya mengisyaratkan adanya binatang di langit dan bumi, diantaranya firman Allah Ta’alaa:
(وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا مِن دَابَّةٍ وَهُوَ عَلَى جَمْعِهِمْ إِذَا يَشَاء قَدِيرٌ) (الشورى:29)
Artinya: (di antara tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya) [QS Asy-Syuura: 29].
Sebagian ulama mengatakan bahwa lafaz daabbah (makhluk melata)menunjukkan bahwa itu makhluk-makhluk selain malaikat karena Allah Azza wa Jalla membedakan antara makhluk yang melata dengan malaikat dalam menyebutkannya dalam firman-Nya:
(وَلِلّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مِن دَآبَّةٍ وَالْمَلآئِكَةُ وَهُمْ لاَ يَسْتَكْبِرُونَ) (النحل:49)
Artinya: (dan kepada Allah sajalah bersujud segala makhluk melata yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) Para ma]aikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri) [QS An-Nahl: 49).
Allah Ta’alaa menyebutkan dalam ayat diatas makhluk-makhluk melata di langit dan makhluk melata di bumi kemudian baru menyebutkan para malaikat.
Dengan ayat-ayat seperti ini sebagian ulama menyebutkan bahwa tidak ada salahnya ini menjadi isyarat atas wujudnya alam-alam lain, akan tetapi sepatutnya kita tidak memastikan hal ini, karena ayat-ayat seperti ini bisa mengandung kemungkinan lebih dari satu pentakwilan.(Fatwa dari Syeikh Abdullah Al-Faqih hadidzohullah Ta'alaa)
Adapun pendapat bahwa makhluk-makhluk ini yang menciptakan manusia dengan bentuk yang menyerupainya dengan perantara DNA dan bahwa dia merupakan kekuatan ajaib yang mengakibatkan wujudnya manusia, maka ini secara hakikatnya merupakan pendapat yang batil yang menafikan akidahnya.
Kesimpulan:
Meskipun Al-Qur’an telah mengisyaratkan dalam beberapa ayatnya tentang kemungkinan keberadaan makhluk di luar angkasa, namun kita tidak boleh memastikan bahwa phenomena yang terjadi di bumi merupakan jejak keberadaan mereka, karena tidak ada seorangpun yang pernah melihat secara langsung wujud mereka seperti yang sering dilukiskan dalam film-film, demikian juga kita tidak boleh menafikan secara langsung keberadaan mereka karena Al-Qur’an telah memberi isyarat yang memungkinkan keberadaan mereka.
Tapi kita tidak boleh terlalu menyibukkan diri mendalami tentang masalah ini karena bukan termasuk perkara ibadah yang diwajibkan oleh Allah kepada kita untuk mengharap pahala dan ridlo-Nya di dunia dan akhirat.
Wallau A’lam bishowab.
(ar/voa-islam.com)

Thursday, January 24, 2013

Gantikan Nuklir, Jepang Bangun Tenaga Angin Lepas Pantai Terbesar di Dunia


Tenaga nuklir berisiko, rawan akan gempa bumi, dan tsunami. Pemerintah Jepang berencana membangun tenaga angin lepas pantai sebagai gantinya

turbin angin,wind turbinKen Cedeno/Corbis
Tragedi bocornya reaktor nuklir di Fukushima Daiichi yang disebabkan gelombang tsunami pada tahun 2011, menjadi pelajaran penting buat Jepang. Tak ingin mengulangi kesalahan, pemerintah Jepang kini memilih untuk mengganti energi tenaga nuklir dengan tenaga angin. Tak tanggung-tanggung, Jepang berencana membangun energi angin lepas pantai yang terbesar di dunia.
Belum luput dari ingatan, gempa bumi dan tsunami menghantam pantai timur Jepang menghancurkan pembangkit listrik tenaga nuklir yang terletak di pantai Jepang di distrik Futaba, perfektur Fukushima. Hancurnya reaktor nuklir ini mengakibatkan radioaktif menyebar dengan cepat ke kota-kota di sekitarnya seperti Okuma dan Futaba serta kota lainnya.
Pasca tragedi ini, pemerintah Jepang mulai berpaling dari energi tenaga nuklir dan memfokuskan untuk mengusahakan energi terbarukan lain seperti energi surya, angin, dan panas bumi. Merealisasikan rencana tersebut, pemerintah Jepang berencana membangun turbin lepas pantai yang menghasilkan kekuatan hingga setara dengan 21 persen dari total energi yang dihasilkan oleh pembangkit tenaga nuklir yang sekarang tidak berfungsi.
Turbin lepas pantai ini nantinya diperkirakan akan menghasilkan energi dua kali lipat dari energi lepas pantai terbesar yang saat ini ada --pembangkit tenaga angin Greater Gabbard di Inggris yang mampu menghasilkan 504 megawatt dengan mengggunakan 140 turbin. Energi tersebut mampu untuk memenuhi kebutuhan energi hampir satu juta rumah.
Nantinya bukanlah turbin-turbin yang dipasangkan ke dasar laut, melainkan dengan menggunakan alat yang canggih berlapis baja yang akan mengambang, terhubung hingga menuju landas kontinen layaknya sebuah rakit yang berlabuh. Ballast atau alat pengimbang akan membuat turbin-turbin ini tetap berdiri tegak.
Manajer proyek Takeshi Ishihara dari Universitas Tokyo mengatakan, pembangunan pembangkit tenaga angin dirancang, di mana risiko gempa bumi dan tsunami sudah dipikirkan.
"Pembangkit tenaga angin benar-benar memiliki rekam jejak yang bagus saat tsunami datang. Sebagai contoh pembangkit tenaga angin Kamisu yang selamat dari gempa dan relatif tidak mengalami kerusakan," kata Ishihara. Nantinya pembangkit tenaga angin juga akan mempengaruhi industri perikanan lokal, jika benar-benar terealisasi maka akan menguntungkan industri perikanan ini.
Halangan terbesar merealisasikan projek ini ialah masalah pendanaan, karena tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit. Namun demikian, secara keseluruhan pemerintah Jepang telah menyiapkan anggaran sebesar US$16,3 miliar dalam proyek energi terbarukan hanya untuk tahun 2012 saja.
(Umi Rasmi. Sumber: Discovery News)

Ditemukan, Foto Langka Tragedi Bom Hiroshima


Foto diambil dekat kota Kaitachi, sebelah timur dari titik kejadian. Dibidik dua menit pasca bom dijatuhkan pada 6 Agustus 1945.

hiroshima,jepang,bom atom,nuklirFoto langka awan cendawan yang terbagi dua sebagai akibat dijatuhkannya bom atom di Hiroshima, Jepang. (Honkawa Elementary School).
Sebuah foto kuno dan langka menggambarkan peristiwa bom Hiroshima pada 6 Agustus 1945 silam, yang telah lama hilang, ditemukan di sebuah sekolah dasar di Jepang.
Foto berwarna hitam putih ini menunjukkan fenomena awan mengepul berbentuk jamur yang terpisah menjadi dua bagian. Awan satu berada di atas awan lainnya, menggambarkan betapa dashyatnya peristiwa pemboman Hiroshima kala itu.
Foto ditemukan di Sekolah Dasar Honkawa di kota Hiroshima dan termasuk dalam koleksi 1.000 artikel tragedi bom atom Perang Dunia II. Koleksi ini merupakan material yang disumbangkan oleh Yosaburo Yamasaki pada tahun 1953.
Surat kabar Jepang, Asahi Shinbun, menyebutkan, di belakang foto tertulis sebuah memo yang menyatakan bahwa foto ini diambil dekat kota Kaitachi, yang berjarak sekitar 9,6 kilometer sebelah timur dari titik kejadian. Diambil dua menit setelah bom dijatuhkan pada 6 Agustus 1945.
Ahli sejarah mengetahui dan mengenali foto ini karena pernah muncul di salinan foto asli dari sebuah buku berbahasa Jepang yang diterbitkan tahun 1988. Keterangan yang terdapat dalam buku adalah identitas fotografer yang memotret tidak diketahui dan diambil kurang lebih 20 hingga 30 menit pasca pemboman.
"Penelitian yang dilakukan oleh Angkatan Laut Kerajaan dan lainnya menemukan bahwa awan (bom atom) terpisah. Foto ini menegaskan hal tersebut dan demikian dia sangat berharga," ujar kurator dari Hiroshima Peace Memorial Museum, Rabu (9/1).
Foto-foto peristiwa pemboman Hiroshima yang terkenal selama ini hanya yang diambil oleh militer Amerika Serikat dari udara pasca pemboman. Bom seberat lima ton yang dikenal dengan nama "Litle Boy" dijatuhkan di Hiroshima oleh pesawat tempur milik AS, Enola Gay, dan menewaskan setidaknya 140.000 jiwa.
Tiga hari setelah itu, kepulan awan menyerupai jamur kembali menyelimuti langit Jepang. Kala itu menerjang kota Nagasaki akibat dari bom atom yang dijuluki "Fat Man." Bom kedua ini menewaskan 70.000 korban jiwa lainnya dan menjadi salah satu penyebab Jepang menyerah di Perang Dunia II.
(Umi Rasmi. Sumber: Discovery News)

Manusia Mulai Berbohong di Usia Empat Tahun


Fakta lain yang dikemukakan adalah dalam percakapan selama sepuluh menit antara dua orang asing, 60 persennya pasti langsung berbohong.

bohong,contek,anak,sekolahIlustrasi ketidakjujuran. (Thinktstockphoto).
Dunia olahraga digemparkan oleh pengakuan pesepeda asal Amerika Serikat, Lance Armstrong, yang menyatakan pernah mengonsumsi doping. Kegemparan bukan hanya karena ini menyebabkan tujuh gelar Tour de France Armstrong dicabut, tapi juga kebohongan yang diciptakannya.
Meski demikian, para pakar menyatakan bahwa bohong adalah hal alami yang dilakukan semua manusia. Kita, manusia, bahkan sudah mulai berbohong sejak usia empat tahun. Kebohongan itu dilakukan manusia beberapa kali dalam sehari.
Menurut Robert Feldman, dekan dari ilmu sosial dan perilaku dari University of Massachusetts di Amherst, AS, bohong dilakukan karena manjur. "Kita biasanya lancar berbohong setiap saat. Biasanya berupa bohong-bohong kecil," ujar Feldman yang mencontohkan bohong kecil seperti memuji penampilan seseorang, Senin (21/1).
Psikolog dan ahli saraf menemukan bahwa menipu seseorang biasanya menekan mental seseorang. Usaha untuk menyatukan kejujuran dan kebohongan, membutuhkan usaha otak yang lebih keras.
Untuk mempertahankan kebohongan selama tahunan dan menyangkal semua bukti yang berisi kebenaran, membuat seseorang harus merancang semacam infrastrukstur di sekitarnya. Seiring berjalannya waktu, hal ini jadi semakin mudah dilakukan.
"Kita memiliki kapasitas luar biasa untuk meyakinkan diri sendiri bahwa yang kita lakukan adalah bukannya suatu kebohongan," ujar Daniel Ariely, penulis buku "The (Honest) Truth About Dishonesty".
Fakta lain yang dikemukakan adalah dalam percakapan selama sepuluh menit antara dua orang asing, 60 persennya pasti langsung berbohong. Demikian data tambahan yang pernah dirilis Feldman dalam jurnal Basic and Applied Social Psychology pada tahun 2002 lalu.
Perbedaan lain mengenai berbohong antara laki-laki dan perempuan adalah kaum Adam biasanya berbohong untuk membuat diri mereka nyaman. Sebaliknya, kaum Hawa berbohong agar membuat pasangan bicaranya nyaman.
(Zika Zakiya. Sumber: Medical Express)


Wednesday, January 9, 2013

Komet dan Samudera, Sebuah Benang Merah


Bumi adalah sebuah keajaiban semesta. Pada masa awal tata surya, Matahari berada dalam fase T–Tauri yang dramatis sehingga membuat senyawa–senyawa gampang menguap seperti air, hidrogen, helium, metana, amoniak, nitrogen, karbon monoksida dan karbondioksida terusir dari permukaan planet–planet terestrial bersama sisa gas dan debu yang membentuk tata surya. Fase T–Tauri menyebabkan Matahari meradiasikan angin Matahari jauh lebih intens dan melepaskan panas dengan intensitas lebih besar, sehingga pada orbit Bumi saja suhunya diestimasikan sebesar 2.000° Celcius atau 100 kali lebih panas dibanding sekarang.
Maka menjadi sebuah pertanyaan besar, mengapa kini Bumi demikian berlimpah dengan air? Sebab ganasnya lingkungan tata surya purba pada saat Matahari menjalani fase T–Tauri hanya akan menyisakan senyawa–senyawa silikat saja di Bumi. Sementara air terusir jauh–jauh sampai ke jarak 600 hingga 750 juta km dari Matahari. Dan dibandingkan planet–planet terestrial tetangganya, hanya di Bumi air berada dalam wujud cair dan berlimpah. Sangat berbeda dengan Mars, yang hanya bisa dijumpai adanya jejak–jejak aliran air purba di permukaannya dengan siklus pembasahan sekitar setengah hingga sejuta tahun sekali. Pun demikian Merkurius, dimana air bahkan hanya bisa dijumpai pada kawasan sangat terbatas di kedua kutubnya sebagai bekuan abadi (permafrost).
Darimana air di Bumi berasal menjadi pertanyaan besar yang terus menggayuti benak astronomi. Air diketahui tersedia berlimpah di kawasan pinggiran tata surya, tersimpan sebagai bekuan (es) pada kometisimal–kometisimal yang menghuni awan komet Opik–Oort maupun sabuk Kuiper–Edgeworth. Satu–satunya mekanisme yang memungkinkan mengangkut air dari kawasan ini ke bagian dalam tata surya, khususnya ke planet–planet terestrial dan lebih khusus lagi ke Bumi hanyalah tumbukan benda langit. Dalam hal ini adalah tumbukan komet dengan Bumi. Meski tumbukan komet selalu diikuti pelepasan energi sangat besar yang ditandai munculnya bola api tumbukan bersuhu sangat tinggi, namun distribusi suhunya tidaklah homogen sehingga hanya sebagian kecil saja air dalam komet yang terurai menjadi hidrogen dan oksigen. Sisanya tetap berupa air meski dalam wujud uap. Jejak kawah di Bulan menyajikan bukti telanjang bahwa Bumi purba pernah mengalami periode paling riuh dalam tumbukan dengan komet, yang dikenal sebagai Periode Hantaman Besar. Hantaman Besar berlangsung 4,2–3,8 milyar tahun silam, dengan jumlah tumbukan komet per satuan waktu adalah sangat besar hingga sejuta kali lipat dari nilai sekarang.
Inti komet Hartley 2 dari jarak 700 km. Sumber : NASA, 2010
Namun komet dari mana yang berperan mengguyurkan air ke Bumi? Kini teka–teki itu mulai sedikit terkuak seiring publikasi hasil observasi terhadap komet Hartley 2 oleh para astronom Eropa yang bersenjatakan teleskop landas bumi Herschel. Komet yang melintas di dekat Bumi pada November 2010 lalu ternyata memiliki sidik jari nyaris identik dengan air di Bumi.
Berbeda dengan observasi in–situ seperti yang dilakukan NASA lewat misi EPOXI (Extrasolar Planet Observation and Deep Impact Extended Investigation) yang bertulangpunggungkan wahana antariksa veteranDeep Impact, observasi Herschel lebih menekankan pada komposisi air khususnya rasio air berat terhadap air ringan (air normal) dalam coma Hartley 2. Air berat merupakan istilah populer bagi D2O, yakni molekul identik air yang atom–atom hidrogennya digantikan oleh atom deuterium, yakni atom hidrogen yang inti atomnya berupa 1 proton + 1 neutron. Sementara air ringan adalah air biasa atau H2O. Rasio antara air berat terhadap air ringan, atau lebih spesifik lagi antara atom deuterium terhadap atom hidrogen, merupakan sidik jari bagi air.
Air di Bumi mengandung 1.558 atom deuterium dalam setiap 10 juta atom hidrogen. Sidik jari ini sangat berbeda dibandingkan air pada enam komet yang telah diobservasi sebelumnya dan diyakini berasal dari awan komet Opik–Oort, salah satunya komet Halley. Air pada komet–komet tersebut mengandung atom deuterium lebih besar yakni 2.960 atom deuterium per 10 juta atom hidrogen. Angka ini nyaris dua kali lipat sidik jari air di Bumi, sehingga jelas air di Bumi tidak berasal dari kometisimal–kometisimal awan komet Opik–Oort.
Yang mengejutkan, justru sidik jari air di meteorit karbon kondritik yang lebih mendekati sidik jari air di Bumi, yakni dengan komposisi sekitar 1.400 atom deuterium dalam setiap 10 juta atom hidrogen. Namun meteorit tipe ini merupakan pecahan asteroid, khususnya asteroid kelas M yang terletak di Sabuk Asteroid Utama. Asteroid M terdistribusi pada jarak antara 300 hingga 600 juta km dari Matahari dengan konsentrasi terbanyak pada jarak sekitar 450 juta km. Meskipun air pada masa tata surya purba, khususnya saat Matahari menjalani fase T–Tauri, berada pada jarak antara 600 hingga 750 juta km dari Matahari sehingga sebagian populasi asteroid M tercakup didalamnya, namun jumlahnya cukup kecil sehingga tidak memungkinkan mencukupi suplai air ke Bumi.
Sidik jari air di komet Hartley 2 berdasarkan observasi teleskop landas bumi Herschel. Sumber : Space.com, 2011
Observasi teleskop landas bumi Herschel dengan memanfaatkan instrumen Heterodyne Instrument for the Far Infrared menyajikan fakta : air di komet Hartley 2 mengandung 1.610 atom deuterium per 10 juta atom hidrogen. Sidik jari ini nyaris identik dengan sidik jari air di Bumi. Dan dengan fakta bahwa komet Hartley 2 berasal dari kometisimal sabuk Kuiper–Edgeworth, maka untuk sementara dapat disimpulkan bahwa air di Bumi memang datang dari kawasan ini. Inilah benang merah itu.
Dengan data terbaru ini maka kita mampu merekonstruksikan datangnya air ke Bumi dengan sedikit lebih baik. Peristiwa tersebut terjadi pada saat Periode Hantaman Besar, yang disebabkan oleh migrasi planet–planet gas. Saturnus, Uranus dan Neptunus purba bergerak lebih menjauh terhadap Matahari dibanding lokasi pembentukannya, sementara Jupiter purba justru sebaliknya yakni lebih mendekat ke Matahari. Migrasi ini menyebabkan planetisimal–planetisimal mini yang berada di antaranya dipaksa hengkang dari lokasi pembentukannya. Sebagian dihentakkan keluar menjauhi Matahari hingga menyusun sabuk Kuiper–Edgeworth. Namun sebagian lainnya dipaksa melesat menuju kawasan tata surya bagian dalam sehingga menghujani planet–planet terestrial.
Pada periode ini, Bumi diperkirakan menerima sedikitnya 70 trilyun ton air, yang memungkinkan untuk menciptakan samudera pertama. Planet–planet terestrial lainnya pun mengalami hal serupa. Hanya saja baik Mars, Venus maupun Merkurius tidaklah seberuntung Bumi sehingga air tak dapat bertahan lama di permukaan planet–planet tersebut.